Posted in Cerita Pendek, Cerpen Bahasa Indonesia, Fiction, Fiksi, Short Story, Uncategorized

The Sword and The Past

katana-wallpaper9Bocah itu berdiri di sana sejak setengah jam yang lalu. Mengenakan baju hitam, tertunduk. Tampak ia menguat-nguatkan batinnya. “Nak, sudah sore. Kita pulang sekarang?” Tanya sang ayah. Ia kemudian menancapkan pedang kayu itu di sana kemudian berbalik. Sesaat ia kembali menengok ke belakang. Kemudian berlari kencang meninggalkan ayahnya jauh di belakang. Dari kejauhan, kaok gagak terdengar memenuhi langit merah senja itu.

**

Penduduk sekitar mengenalnya sebagai Juli. Guru olahraga yang mengajar di salah satu sekolah menengah kawasan selatan Bandung yang ramah meski agak tertutup. Tinggal berdua dengan anak angkatnya di rumah luas berukuran kurang lebih lima ratus meter, tak banyak yang tahu bahwa ia merupakan seorang kenshi[1] dan menyandang sabuk hitam kendo[2] tingkat lima.

Ungkapan tak banyak yang tahu sesungguhnya agak kurang tepat karena hanya ada dua orang yang tahu fakta mengenai Julio Sora sang ahli ilmu bela diri pedang: Dirga, seorang yatim piatu yang diadopsi oleh Sora sejak usia lima tahun dan menjadi murid satu-satunya dari perguruan tertutup tersebut, dan Jeffrey, bocah tujuh tahun yang setiap hari, sepulang sekolah, memanjat pohon beringin di pinggir jalan yang berdempet dengan tembok rumah besar itu, dan mengendap-endap melalui titian tembok untuk kemudian melompat ke atas pohon alpukat besar dan mengintip segala aktivitas di dojo[3] kecil yang tersembunyi di bagian belakang rumah.

Aktivitas mengintip kakak dan paman bermain pedang kayu itu harus terhenti ketika suatu hari di akhir pekan, Jeff ketahuan. Sora sudah mengetahui aksi menyusup dan mengintip yang dilancarkan bocah kelas dua SD itu di rumahnya selama beberapa minggu terakhir. Ia sengaja membiarkannya untuk melonggarkan kewaspadaan Jeff kecil dan membuatnya lengah. Siang itu, Sora berdiri di bawah pohon alpukatnya yang menjulang setinggi enam meter dengan dedaunan rindang dan dahan yang kokoh melebar hingga meneduhkan jalan di sekitar sisi belakang rumahnya. Ia berdiri dengan tenang seraya menatap ke atas, masih mengenakan hakama, seorang remaja laki-laki yang kelak diketahui Jeff sebagai Kak Dirga berdiri di belakangnya, menatap serius ke arah sang guru. Sora menepuk-nepuk batang pohon berusia puluhan tahun itu. “Ingat Dirga, pedang adalah perpanjangan lengan dan tanganmu,” ia berhenti sejenak, kini tangan kanan yang sebelumnya mengelus-elus batang pohon telah berpindah ke gagang kayu yang terselip di sabuk atau obi[4] yang mengikat hakama-nya[5], “oleh karenanya, seorang kenshi harus mampu menggunakan setiap bagian pedangnya untuk menyerang, maupun bertahan. Sebagaimana manusia menggunakan lengannya.” Hening. Jeff mendengarkan dengan panik, berusaha bersembunyi di balik dedaunan hingga tiba suara dentuman terdengar diikuti dengan getaran yang sangat keras di seluruh bagian pohon. Bocah di puncak pohon kehilangan keseimbangan dan refleks melompat ke bagian dalam rumah dan mendarat tepat di rak tanaman bonsai milik Sora. Dirga tercengang melihat anak setinggi ketiaknya mendarat tepat di koleksi bonsai kesayangan gurunya. “Sen…Sensei[6]…” Ia tergagap, menyaksikan anak kecil itu menganga dan ambruk di atas kedua lututnya. Sora menoleh dan menyarungkan kembali pedang kayunya yang keluar separuh dari Obi-nya. “Dua bulan hukuman membersihkan dojo karena merusak tanaman bonsai,” kembali ada jeda pada kalimatnya, “dan berlatih pedang seumur hidup.” Sora berkata dengan tegas namun tenang. “Latihan selesai, Dirga.” Sora berlalu. “O…Osu! Arigato gozaimashita[7]!” Dirga membungkukkan tubuhnya, menatap iba kepada anak kecil didepannya yang masih megap-megap dengan kaki gemetar. Hari-hari Jeff segera dimulai sebagai murid kenjutsu Sora-sensei.

**

1.

Minggu Pagi, Dojo

Dalam posisi seiza[8], Sora menunggu di ruangan yang terletak di bagian belakang rumah klasik itu. Di hadapannya, Dirga sudah melakukan pemanasan dengan mengayunkan bokken[9] miliknya sejak setengah jam yang lalu sambil terus-menerus meneriakkan kiai dengan lantang, seirama dengan ayunan pedang kayu-nya. Sora mengawasi setiap gerakan murid sekaligus anak yang telah berlatih dengannya sejak masih sangat muda tersebut dengan seksama. Teknik dasar Dirga tak perlu diragukan lagi. “Happogiri[10]!” Pekik Sora yang direspon dengan tebasan ke delapan arah oleh Dirga. Gerakan sempurna. Sora mengangguk. “Cukup, kita tunggu teman baru kita.” Ujar sang guru. “Osu.” Dirga membungkukkan tubuhnya sebagai tanda memberi hormat kemudian menyarungkan kembali bokken sepanjang kurang lebih seratus sepuluh sentimeter tersebut di sabuk hakama-nya. Sudah satu jam dari waktu yang dijanjikan. Jeff, bocah yang dihukum oleh Sora tak kunjung datang. “Nanti sore kita jalan-jalan sebentar ke rumah teman baru kita.” Ujar Sora seraya bangun dari duduknya.

**

Jeff memandangi kipas angin yang berputar lambat di langit-langit kamarnya. Ia dihukum tak boleh keluar rumah oleh ayah karena ketahuan bermain-main dengan katana[11] peninggalan kakek buyutnya di halaman rumah. Setelah berceramah panjang lebar tentang betapa berharga serta berbahayanya pedang warisan kekaisaran Tokugawa Ieyasu[12] itu dan menjatuhkan sanksi kurungan selama kurang lebih dua puluh jam kedepan, ayah bersama-sama dengan ibu dan kakak Jeff pergi ke rumah aki[13] di Garut. Ia menoleh ke arah jam dinding di dekat pintu, pukul delapan lebih lima menit, sudah lewat satu jam. Jeff membayangkan ancaman Sora yang mengatakan bahwa ia akan melaporkan tindakan Jeff masuk diam-diam ke halaman rumahnya selama beberapa minggu terakhir ke ayah apabila ia tidak datang ke dojo hari itu. Tapi jika ia kabur sekarang dan ketahuan, hukuman dari ayah akan semakin berat.  Jeff menimbang-nimbang risiko yang mungkin terjadi dari kedua tindakan berikut : Kabur dari jendela, atau pasrah dikurung dalam kamar sampai hari Senin pagi. Setelah kurang lebih lima menit berpikir, bocah itu melompat dari tempat tidurnya, membiarkan kipas angin tetap menyala dan menyalakan lampu kamar. Sesaat kemudian, Jeff telah berada di titian luar, menutup jendela sambil berjongkok, “beres,” gumamnya seraya berbalik arah, matanya menatap ke bawah. “Lumayan tinggi.” Gumamnya sambil menarik napas dalam-dalam kemudian melompat ke depan, menggapai dahan pohon mangga yang menjuntai kokoh. Jeff berhasil menggapainya namun tak sampai dua detik, pegangannya lepas dan ia mendarat dengan ujung kedua kakinya. Tubuh kecil kurusnya refleks berguling dengan mulus ke depan dan berdiri tegak. Bocah tujuh tahun itu tersenyum jenaka, membayangkan dirinya adalah Leonardo dari serial Teenage Mutant Ninja Turtles. Setelah sejenak menoleh kebelakang , Jeff melesat memanjat tembok pagar rumahnya dan berlari sekencang-kencangnya. Berlari dengan kaki telanjang sambil membayangkan pedang kayu, Leonardo, kura-kura ninja dan seorang guru pedang, Jeff tertawa lepas sepanjang jalan.

Pukul delapan lebih dua puluh menit, Dirga yang sedang melanjutkan latihan dengan bokken dan training dummy[14] dikagetkan oleh sebuah kepala berambut jabrik yang tiba-tiba menyembul dari balik pagar rumah. “Permisi, tadi sudah panggil-panggil dari depan tapi nggak ada yang jawab.” Ujar bocah pemilik rambut jabrik itu. Napasnya tersengal setelah berlari selama lima belas menit. “Kamu, anak kemarin. Ngapain ke sini?” Tanya Dirga sambil menyarungkan kembali pedang kayu miliknya. “Mau belajar pedang seperti kakak.” Jawab Jeff polos. Sora mengamati dari jauh. Berdiri di sudut yang tak terlihat oleh Jeff, ia melihat sorot yang berbeda pada mata anak SD itu.

“Kamu pikir gampang belajar kenjutsu? Kamu beneran siap? Siap dihukum Sora-sensei?” Dirga bertanya bertubi-tubi, yang ditanya tergagap, bukan karena tak bisa menjawab tapi karena sosok yang berjalan mendekat di belakang Dirga. “Kamu memang tidak bisa masuk lewat pintu ya, bocah.” Jeff terdiam, semangatnya tiba-tiba menciut. Seperti kemarin, ia tak mampu membalas ucapan Sora, bahkan butuh keberanian hanya untuk menatap wajah keras sang guru. “Kenapa terlambat?” Sora kembali mencecar Jeff. “Sa…sa..saya… Ketiduran.” Jeff tergagap dan tak bisa berpikir jernih. Dirga hanya terdiam menyaksikan anak kecil tergagap di hadapan sensei-nya sementara sang guru mengamati lekat-lekat wajah bocah ingusan yang tertunduk di hadapannya. “Bohong. Kamu kabur dari rumah ya?” Air muka Jeff berubah drastis tanda kebingungan dan takjub. Dirga berusaha menahan tawa. “Eng…enggak!” Pekiknya sambil masih berglantungan di tembok. “Suara langkahmu terdengar berbeda dari biasanya. Kamu nggak pakai sandal kan? Kenapa nggak pakai sandal? Pasti kamu nggak keluar lewat pintu rumah kan? Haha.” Dirga tak kuasa melihat tingkah dan ekspresi Jeff. Sora mengangkat kedua alisnya sambil berjalan mendekat, “hukuman karena berbohong dan datang terlambat. Lari keliling halaman rumah sampai kusuruh berhenti.” Dengan cekatan seketika itu juga ia mengangkat Jeff masuk ke halaman rumahnya. Bocah itu diam saja seperti patung plastik. “Mulai!” Teriak Sora. Jeff tidak mengerti mengapa ia tak bisa membantah Sora-sensei. Dengan sekuat tenaga, tanpa sandal, ia kembali berlari.

Sebuah handuk hitam jatuh di atas wajah Jeff yang terlentang di bawah pohon alpukat besar yang biasa ia panjat. Napasnya tersengal, dadanya naik turun. Lebih dari satu jam ia berlari tanpa henti. “Mandi sana, lalu bersihkan dojo.” Perintah Sora. “Si…siap!” Jeff tergagap sambil bangkit dari posisinya kemudian berlari ke arah pintu belakang. Tak lama kemudian ia kembali lagi, “kamar mandinya di mana?” Tanya bocah itu polos. “Kamar mandi? Sana ke kolam belakang!” Jeff kembali berlari terseok-seok.

Setelah berlari puluhan putaran mengitari halaman rumah Sora-sensei dan direndam di kolam penuh ikan koi selama setengah jam, kini Jeff, mengenakan kaos dan celana longgar milik Dirga, sibuk mengepel lantai dojo dengan diawasi langsung oleh Sora. Sementara itu Dirga melanjutkan latihannya di halaman belakang. Terdengar suara bokken memotong udara berkali-kali dari arah halaman belakang. Jeff diam-diam mendengarkan bunyi tebasan kosong itu dengan seksama. “Pel yang benar. Jika semuanya sudah bersih, pergi ke ruang makan.” Ujar Sora seraya meninggalkan dojo dan beranjak ke dapur. Jeff hanya mengangguk sambil melanjutkan hukumannya membersihkan dojo hari itu, pikirannya masih terfokus ke suara-suara dari halaman belakang. Ia ingin latihan juga.

Jeff tersenyum puas. Lantai sudah mengilap, hakama, bokken, dan peralatan lainnya telah ia tata dengan rapi, semua perabotan telah dilap dengan cairan pembersih hingga tak ada debu setitikpun. Dari pintu, sosok Dirga muncul, “makanan sudah siap,” ujarnya sambil berbalik badan, menuju ruang makan. “Siapa namamu tadi?” Tanyanya kepada bocah yang mengikuti di belakangnya. “Jeffrey.” Jawabnya pelan. Dirga hanya mengangguk, mereka tiba di ruang makan. Jeff mencium wangi makanan yang tak dikenalinya. Ketika masuk, ia terkejut melihat berbagai makanan lengkap tersaji di atas meja makan berbentuk oval. “Capek?” Tanya Sora yang sedang menuang teh dari poci tanah liat sambil memunggungi keduanya. Pertanyaan untuk Jeff tentunya. “Ah enggak.” Jawab yang ditanya dengan santai. ”Kalau begitu, makan sedikit saja, ya?” Tanya Sora lagi. Air muka Jeff berubah, tiba-tiba perutnya berbunyi seperti geraman serigala yang sedang marah karena makanannya direbut. Bocah itu salah tingkah. Dirga tak kuasa menahan tawa melihat kelakuan anak kecil di sebelahnya. “Hahaha, kamu belum makan berapa hari?” Ia bertanya sambil masih tertawa. Jeff diam saja. Sora geleng-geleng kepala. “Duduk sini. Kau boleh makan sepuasnya. Pelajaran pertama :Jangan bohongi dirimu sendiri, Jeff-kun.”  Jeff tertunduk, wajahnya merah seperti tomat ceri. Dirga masih tertawa.

Setelah menghabiskan makanannya dengan lahap, Jeff berinisiatif untuk mencuci semua piring di atas meja makan. Usaha yang segera dihentikan oleh Sora. “Biar Dirga yang beres-beres. Dapur bukan bagianmu, kita ke dojo.” Ujarnya seraya berjalan ke luar dari ruang makan yang menyatu dengan dapur. Jeff mengikuti di belakang. Sesampainya di dojo, sambil tersenyum-senyum sendiri, ia membayangkan latihannya akan segera dimulai. “Bagus, sudah bersih dan rapi semuanya.” Sora mengangguk puas. “Sekarang, ambil satu bokken di sana.” Mata Jeff berbinar-binar, “kita latihan, Sensei?” Sora tersenyum, “ku antar kau pulang, sekarang sudah kesorean, lihat?” Mendengar jawaban sang guru, Jeff mendadak pucat. “Eh… Enggak usah, aku pulang sendiri aja!” Tolaknya. “Ternyata beneran kabur dari rumah ya.” Ujar Sora sambil tersenyum lebar. Jeff terdiam seketika. Kembali ia tak kuasa membantah. “Pilih satu bokken. Lalu ku antar kau pulang.” Kini suara itu dingin dan tegas. Buru-buru Jeff mengambil salah satu pedang kayu yang tadi telah dirapikannya, menggenggamnya erat. Sore itu, pikiran Jeff tak karuan membayangkan amukan ayah. Sementara di depannya, Sora, mengenakan jogger pants dan kaus hitam,  berjalan santai.

“Jeffrey! Minta maaf!” Hardik ayah setelah mendengar penjelasan dari Sora tentang apa yang terjadi selama beberapa minggu terakhir. Bagaimana Jeff menyusup masuk dan mengintip dari atas pohon setiap harinya dan insiden back-flip berujung hancurnya bonsai-bonsai milik Sora.Yang di bentak tertunduk. Bungkam. Hampir menangis. Malu. Sambil menggenggam bokken dengan erat, Jeff membuka mulutnya. Suaranya bergetar. “Ma..Maaf.“ Dalam hati ia dongkol setengah mati terhadap Sora. Lebih buruk lagi, ia menyesali kelemahan tekadnya yang takut terhadap laki-laki yang sekarang sedang berbincang dengan ayah.Sesaat Sora menatap Jeff, mata anak itu nyalang bagai serigala yang hendak menerkam musuhnya. Seketika ia menancapkan bokken itu di tanah berumput di depannya, kemudian bocah itu berlari kencang ke dalam rumah. Sesaat kemudian terdengar suara pintu dibanting. “Jeff!!” Ayah menggeram menahan marah. “Mohon maaf atas kelakuan Jeff, Mas.” Sambungnya.  Sora mengangguk pelan sambil tersenyum. “Jeff antusias sekali mengamati latihan kami, pak. Saya berniat untuk menjadikannya murid. Apalagi bapak bilang Jeff sangat tertarik pada katana. Saya harap bapak mengijinkan.”  Ayah mengangguk sambil tersenyum lesu. “Akan saya bicarakan, anak itu memang perlu didisiplinkan. Terima kasih, mas Juli. Saya baru tahu lho kalau mas ternyata atlet.” Sora tertawa pelan. “Haha. Itu dulu pak. Sekarang saya hanya guru olahraga. Kalau begitu saya pamit. Assalamualaikum.” Ayah membalas salam seraya menyalami Sora. Sejenak, sang guru menoleh kearah pedang kayu yang tertancap kokoh di tanah. Ia tersenyum sambil menggelengkan kepala. Ia tahu Jeff bukan anak biasa.

Di dalam, Jeff tidak terima dengan perlakuan Sora yang mengadukan semuanya ke ayah. Ia merasa calon guru barunya, yang sekarang ia anggap calon musuh barunya, mengkhianatinya dengan membeberkan semua perbuatannya padahal di saat yang sama tetap memberikan hukuman.  Ia tidak beranjak dari kamarnya. Bahkan pura-pura tertidur ketika ayah masuk. Jeff mendengar ayah meletakkan sesuatu di atas meja belajarnya. Bocah itu masih pura-pura tidur, menunggu momen sang ayah keluar dari kamarnya. Dua menit kemudian, Jeff merasakan telapak tangan besar mengusap-usap kepalanya beberapa saat, lalu terdengar suara langkah menjauh. Pintu kembali ditutup. Jeff melonjak seketika, tanpa bersuara sedikitpun ia berbalik badan, mendapati sebentuk tongkatsepanjangkurang lebih 70 sentimeter terbungkus kain hitam dengan kertas bertuliskan sesuatu di atasnya.

‘Jangan buang kesempatanmu –Ayah-‘. Jeff tertegun. Ia menatap carik kertas itu selama beberapa saat setelah membacanya tiga kali. Tak berkedip. Ia tak yakin ayahnya memberi izin. Menyentuh pedang kakeknya saja berakibat teguran keras.  Jeff terbangun dari lamunannya dan melempar kertas kecl itu ke belakang. Kini pandangannya tertuju pada kain hitam yang membungkus pedang kayu, Jeff yakin, di dalamnya. Jeff perlahan menyentuh benda itu, menekannya sedikit. Keras. Agak dingin. Ia mengangkatnya sedikit, ringan, kemudian menarik kain hitam itu perlahan. Jeff menghentikan tangannya seketika. Terlintas sesuatu di pikirannya yang membuatnya segera menghambur ke jendela. Ia buka jendela kamar itu perlahan, ia masih dalam situasi pura-pura tidur. Jeff menjulurkan kepalanya keluar jendela, menoleh ke kanan dan melihat ke arah bawah. “bokken!” Pekiknya keras. Cepat-cepat ia menutup mulut dengn tangannya kemudian menoleh ke belakang, ke atas meja di samping tempat tidurnya. “Masa sih?” Gumamnya nyaris percaya. Dengan sigap Jeff melompat kembali ke dekat meja belajarnya, menarik dengan serta merta kain hitam itu. Jeff terkesiap. Matanya melotot lebar. Napasnya tertahan. “KATANA!” Pekiknya. Kembali ia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Diamatinya benda itu. Sarung pedang itu terbuat dari kayu hitam. Warna hitamnya alami, bukan warna hitam yang berasal dari cat. Jeff melihat ke arah gagang pedang di ujung yang mengarah ke tempat tidurnya, diangkatnya pedang yang masih bersarung itu. Tanpa berpikir panjang, Jeff menariknya dengan semangat, membayangkan bunyi logam tajam itu keluar dari sarung kayu seperti di film-film. Tak ada bunyi desing logam, tak ada bilah pedang, gagang itu kosong. Jeff melongo, digoyang-goyangkannya gagang itu. Di bagian di mana seharusnya terpasang metal tajam pembelah segala, terdapat secarik kertas yang kecil sekali, tertempel dengan bantuan selotip. Jeff memicingkan matanya, tertulis ‘6 A.M’. Tulisan ayah. Jeff sepertinya paham. Segera ia melompat kembali ke tempat tidurnya, berusaha tidur sungguhan.

Jam menunjukkan pukul 5.30. Jeff sudah siap dengan seragam sekolah. Sejak masuk sekolah dasar, ia memang dibiasakan bersiap sendiri. Biasanya ibu akan memberi dua peringatan: pukul 5 untuk solat subuh, dan menjelang pukul 6.15 untuk bergegas turun. Tak biasanya ia sudah rapi sepagi itu. Matanya merah. Ia kurang tidur memikirkan pesan dari ayah. Entah jam berapa ia akhirnya tertidur, yang jelas sekarang kepalanya pusing namun jantungnya berdebar-debar penasaran. Segera ia menyambar ransel dan sarung pedang kosong itu kemudian bergegas turun.

Bokken itu berembun. Tertancap dengan kokoh, tak bergeser sedikitpun dari posisi kemarin sore. Jeff menggenggamnya. Dingin dan lembab menjalari telapak tangan kanannya. Tangan kiri menggenggam erat sarung katana yang dibalut kain hitam itu. “Darah memang enggak bisa bohong.” Jeff melompat serta merta berbalik badan karena terkejut. Ayah berdiri di belakangnya sejak tadi.”Kakek-nya ayah, abah-nya aki, kakek buyutmu, dulu merupakan pemain pedang yang andal. Bahkan aki juga sempat belajar sebelum akhirnya kakek buyut meninggal.” Ayah melanjutkan. Jeff diam saja. Tatapannya lurus ke bawah. “Ayah tidak keberatan kamu berlatih pedang. Ayah hanya keberatan jika kamu main-main dengan pedang tanpa tahu cara menggunakannya dengan benar.” Jeff mendongakkan kepalanya, “aku mau belajar, tapi aki enggak pernah mau ngajarin kan? Makanya jadi penasaran. Terus ketemu Sora-sensei.” Ayah tersenyum mendengar penjelasan anaknya.”Aki sudah tua. Ditambah lagi, jika melihat si…” Ayah mengingat-ingat, “Sora-sensei.” Sambar Jeff. “Iya, Sora. Ilmu aki kalah jauh dari dia. Aki tidak sempat belajar banyak saat itu.” Kembali Jeff terdiam. “Pergi ke sana sore ini sepulang sekolah. Mulai sekarang kamu berguru di sana.” Mata Jeff seketika berubah cerah. Ayah cepat menambahkan. “ Dengan syarat: Sekolahmu tetap prioritas utama dan jika kamu enggak serius, jangan berani-berani latihan lagi.” Jeff terdiam sejenak kemudian mengangguk mantap. “Ini? Diapakan, Yah?” Tanyanya seraya menyodorkan sarung pedang ke hadapan ayah. “Simpan di kamar, akan datang waktunya tapi tidak sekarang.” Ayah berbalik dan kembali masuk ke dalam rumah.  Jeff tertegun mendengar perubahan pada nada bicara ayah. Pagi itu, dadanya bergemuruh dan Jeff ingin segera pulang dari sekolah. Ia memeriksa jam tangannya, “masih lama.” Gumamnya seraya menghela napas panjang.Ayah mendadak berhenti di depan pintu seraya berbalik,“satu hal lagi, jangan cerita ke aki kalau kamu belajar pedang, janji?” Jeff hanya mengangguk. Entah mengapa ia mengangguk, ia pun tak tahu.

Waktu terasa sangat lambat di sekolah. Entah sudah berapa kali Jeff melirik ke arah jam di atas papan tulis putih. Padahal sepuluh menit lagi kelas selesai, tapi rasanya seperti menunggu dua jam pelajaran. Matanya kembali tertuju ke arah jam. Masih 9 menit lagi. Jeff mengetuk-ngetuk mejanya dengan jari-jarinya. “Lama!” Geramnya.

Jeff berlari sekencang-kencangnya. Ia melesat begitu mendengar bunyi bell tanda sekolah telah usai hari itu. Dengan gesit ia menyusup dan melompat kecil diantara kerumunan anak-anak lainnya yang sama-sama hendak pulang. Ia menitipkan pedang kayunya ke pak satpam baik hati yang sudah sejak kelas 1 SD mengenal baik dirinya dan ayah. “Eh, cepet pisan[15] kamu teh, Jep.” Ujar pak Jajang melihat Jepri sendirian di depan pintu pos-nya sementara anak-anak lain masih jauh di belakang. “Nggak nunggu teman-teman? Pulangnya nggak bareng?” Lanjutnya. Jepri menggeleng cepat. “Enggak, pak. Buru-buru nih, saya pulang dulu ya.” Ujar jepri setelah dengan cepat menyambar bokken yang dibungkus kain hitam itu. Ia berlari lebih cepat dari sebelumnya. Dadanya bergemuruh membayangkan hari pertama latihan pedang dengan guru sungguhan.

Halaman itu kosong. Jeff sudah mondar-mandir di sana selama sepuluh menit namun tidak ada tanda-tanda keberadaan siapapun di rumah berhalaman luas itu. Ia sudah curiga karena tidak ada yang menyahut saat dirinya memberi salam sampai suaranya serak dari luar pagar sampai akhirnya ia memutuskan masuk dengan cara biasa, memanjat dan menyeberang melalui dua pohon besar dan lompat ke halaman belakang. Akhirnya Jeff mengeluarkan pedang kayunya dari balik kain hitam itu. Ia mengayun-ayunkannya dengan satu tangan. Berat. Terpikir olehnya pedang bambu yang biasa dipakai dalam latihan kendo. Dalam hati ia bertanya-tanya mengapa alih-alih memberikan pedang bambu, Sora-sensei justru memberi pedang kayu padat yang berat begini. Tapi tak mengapa, ia suka bentuknya. Setelah beberapa saat, Jeff menggenggam gagang pedang dengan kedua tangannya, menirukan posisi Dirga yang diamatinya berminggu-minggu lalu dan mulai mengayunkan pedangnya ke arah depan dengan kuat. Pedang kayu itu nyaris menyabet tanah di bawahnya. Jeff belum terbiasa dengan bobotnya.

“Kamu memang enggak tahu caranya masuk lewat pintu ya?” Jeff terjengkang dan berteriak bersamaan dengan ayunan pedangnya yang entah keberapa puluh kali. Tangan yang sudah gemetaran ditambah suara yang mendadak mengagetkannya dari belakang membuatnya ambruk seketika. Ia menoleh ke belakang, Dirga masih mengenakan seragam sekolah berdiri tegak di hadapannya.  Ia tak kuasa menahan senyum geli menatap bocah itu. “Kamu pikir ini jam berapa?” Jeff bengong sejenak. “Memang jam berapa?” Ia malah balas bertanya. “Eh.. Beneran enggak tahu? Ini masih jam 12 siang! Sensei belum pulang dan aku kebetulan pulang lebih awal. Kamu kelas berapa sih?” Dirga setengah tertawa bertanya. “Kelas… 2.” Jeff menjawab sambil mengangkat salah satu tangannya menjulurkan dua jari. “Pantas sudah pulang jam segini. Yasudah, tunggu sensei dua jam lagi.” Dirga memasukkan anak kunci ke dalam lubang di pintu kaca, hendak masuk ke dalam lewat belakang.  Jeff mengikuti, “siapa suruh masuk? Tunggu di luar.” Ujar Dirga sambil menahan tawa seraya menutup pintu. Jeff menghela napas, menatap bokken yang tergeletak di halaman berumput itu.

“Bangun! Ngapain tidur di situ?” Jeff membuka matanya dan terlonjak kaget. Sora berjongkok di hadapannya. “Kamu datang jam berapa?” Tanyanya lagi. “Jam 12.” Jawab Jeff singkat. Ia berusaha mengingat-ingat berapa lama ia terlelap di bawah pohon alpukat itu. Sora tersenyum sambil menggeleng pelan. “Semangat ya. Bagus. Oke kita mulai.” Seru Sora seraya bangkit. Jeff mengikuti. Mendadak ia bersemangat lagi. Ia mengangkat kembali pedang kayunya, tangannya gemetar. Melihat bocah di hadapannya kepayahan menyeimbangkan pedang dengan lengan gemetaran, Sora malah berkata, ”coba ayun, ke mana saja.” Jeff menurut, ia memasang kuda-kuda seperti yang dilihatnya selama ini kemudan mengayunkan pedangnya. “Ja..tuh.” Katanya pelan sambil melihat pedang kayu itu terlempar ke arah pohon di mana ia tadi terlelap di bawahnya.

Angin sore itu lebih kencang dari biasanya. Meniupkan hawa sejuk yang menyenangkan. Jeff yang masih mengantuk berusaha melek meski semilir angin meniup wajahnya. Sora menginstruksikannya untuk bersiaga dengan Chūdan-gamae[16]. “Kuda-kudamu bagus, tapi lenganmu belum terbiasa dengan beban dari pedangnya. Udah tahu nggak kuat masih berani main-main katana di halaman rumah?” Pertanyaan Sora tak perlu dijawab. “Sekarang,” Sora mengambil pedang kayu yang terjatuh itu, “tetap dengan posisi begitu, pertahankan kuda-kudamu.” Jeff mengikuti instruksi Sora. “Bagus, ayunkan seperti tadi sambil berteriak dengan lantang.” Jeff bingung dengan instruksi yang ini, “tapi pedangnya? Teriak?” Sora mengangguk sambil menaikkan alisnya. “Pertama: Kamu tidak akan pakai boken dulu sampai besok. Tanganmu sudah nggak kuat, kedua: kamu pasti belum paham apa itu kiai[17].” Jeff menggeleng. “Kamu pernah dengar ki[18]? Atau, chi[19]?” Untuk kedua kalinya Jeff menggeleng. “Kalau begitu kamu pasti juga belum tahu Ki-Ken-Tai-Ichi[20], Hmm?” Gelengan ketiga sore itu. Di dalam dojo, Dirga berlatih sendirian sementara Jeff bersiap-siap menggeleng lagi.

Keheningan memenuhi halaman berumput yang asri itu. Hanya suara ayunan pedang kayu Dirga dan gesekan langkah kakinya sayup-sayup terdengar dari dalam rumah berlantai kayu. Sora nyaris kehabisan ide untuk menjelaskan konsep ki kepada murid barunya. Sesaat kemudian, ia mengambil posisi agak membungkuk, melebarkan kaki dan mengatup kedua tangannya kemudian menariknya perlahan ke belakang.“Kamehameha[21]?” Jeff berseru melihat Sora memasang kuda-kuda seperti Son Goku hendak melancarkan jurus andalannya. “Nah itu kamu tahu!” Jawab Sora sambil tergelak. “Sensei bisa kamehameha?” Tanya bocah itu polos. Sora menggeleng, “kamu tahu Dragon Ball dari mana?” Tanya Sora. Jeff berpikir sejenak. “Video Game, komik, TV,” jawabnya datar. “Berarti kamu harusnya tahu kalau jurus-jurus di serial itu menggunakan ki.” Ujar Sora lagi. Jeff mengerutkan dahi, berusaha memahami perkataan guru barunya.  “Berarti kita bisa kamehameha?” Tanya Jeff dengan nada tidak percaya. “Nggak bisa, tapi setiap orang punya energy di dalam tubuhnya yang disebut ki. Energi itu bisa dikendalikan dan dialirkan.” Jeff menyimak namun masih belum paham. “Terus? Gimana caranya? Mengendalikan?”  Mengalirkan?” Sora mengambil kuda-kuda tanpa berkata apa-apa lagi, bokken terhunus. “HAAAAA!!” Suaranya menggelegar lantang diikuti ayunan pedang yang mantap, Jeff tak dapat melihat kelebat ayunan Sora namun ia mendengar jelas suara pedang itu membelah udara. Ia menelan ludah. “Harus banget teriak? Sensei?” Sora-sensei mengangguk, “banget!” Jawabnya sambil membuka pintu kaca, berjalan ke arah lemari dan mengambil sebuah tongkat bambu yang biasa dipakai dalam latihan kendo. “Pakai shinai[22], sensei?” Tanya Jeff ketika gurunya mendekat dan menyerahkan pedang bambu itu. Sora tak menjawab, “teriak, dengan begitu kamu belajar mengalirkan ki ke pedangmu.” Jeff menggeggam erat shinai di tangannya yang masih gemetar. Sore itu, Jeff menghabiskan lebih dari 2 jam berjuang memantapkan ayunan shinai dan vokalisasi kiai sebagai representasi aliran ki-nya. Sora mengamati dengan saksama. Jeff berkembang perlahan di setiap proses kecil yang dijalaninya. Langit mulai memerah, kicau burung terdengar samar-samar dari kejauhan.

3.

Ichi!.. Ni!.. San[23]! Teriakanmu kurang bertenaga!” Setiap hitungan diikuti pekikan Jeff yang dengan segenap upaya meneriakan kiai terbaiknya sambil mengayun tongkat bambu itu sekua tenaga. Hitungan tiga ke-150 hari itu, shinai jatuh ke rumput di halaman itu diikuti Jeff yang juga ambruk di atas kedua lututnya. Mendadak gempa bumi meruntuhkan tanah di bawahnya, menjatuhkannya ke bawah tanah dengan sangat cepat. Suara Sora terdengar menggema: ‘Teriakanmu kurang bertenaga!’ berulang-ulang. Jeff terhenyak bangun dari tidurnya dan berteriak, namun tak ada suara yang keluar. Suaranya habis. Latihan tadi hinggap di mimpinya malam itu. Keringat dingin membasahi dahi dan baju anak itu. “Aww..” Jeff meringis saat berusaha menggerakan lengannya untuk meraih secarik kertas di atas meja di samping tempat tidur. ‘Latihan fisik dan teknik’ tertulis di bagian atas kertas putih itu. Jeff membaca daftar itu untuk yang ke-lima kalinya sejak tadi sore. “Lari 2 kilometer, lompat tali 10 menit, push-up 100 kali, sit-up 100 kali, plank 5 menit, ashi-sabaki[24] masing-masing 100 langkah, tsuki[25] 50 kali, uchi[26] 50 kali. SETIAP HARI.” Ia kemudian membalik catatan itu dan menemukan catatan yang lebih pendek: ‘Ki-Ken-Tai-Ichi’, yang ditulis oleh Sora beserta pengertiannya: sinkronisasi (ichi) energi (ki), pedang (ken), dan tubuh (tai). Selesai membaca, Jeff meletakan kembali catatan itu sambil meringis menahan ngilu lengannya. Ia kemudian melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 2 pagi. Ia bangkit dari tempat tidurnya, mengambil posisi di lantai dan melakukan push-up. Setelah 5 kali, bocah itu memutuskan berhenti, lengannya masih kaku dan nyeri. Jeff kembali ke tempat tidurnya. Dalam tidurnya, ia kembali bermimpi sedang berlatih.

**

Porsi makan Jeff meningkat drastis. Latihan dari Sora menguras banyak energi dan membawa banyak perubahan pada pola hidup Jeff setelah dua minggu penuh berlatih baik sendirian di rumah maupun bersama Sora dan Dirga di dojo. Tidur malamnya kini teratur dan tak pernah melebihi jam 10 malam. Jeff bahkan bisa bangun secara otomatis setiap pukul 5 pagi. Tak hanya fisik yang semakin prima dan terbentuk, kedisiplinan Jeff pun meningkat. Lebih dari itu, kiai atau vokalisasi Jeff sebagai simbol aliran ki ke pedang juga semakin lantang. Ayah mengamati perkembangan Jeff dan tampak senang. Sebagai junior atau kohai[27], latihan Jeff dibimbing dan didampingi Dirga serta diawasi oleh Sora di dojo. Hukuman membersihkan dojo tetap berlanjut. Meski demikian, Jeff tidak pernah mempermasalahkannya. Hari itu, seperti biasa, Jeff berlatih bersama Dirga yang hampir di setiap sesi menjadi motodachi[28] yang membimbing serta mengarahkannya. Tentunya di bawah pengawasan Sora. “Yak! Hari ini cukup!” Ujar Sora menutup sesi hari itu. Jeff membungkuk pelan yang kemudian diikuti oleh Dirga dengan gerakan serupa. “Arigatou!” Ujar keduanya dengan suara rendah. Sora tersenyum puas melihat perkembangan keduanya. Dirga mampu membimbing Jeff yang masih kurang pengalaman sementara Jeff menunjukkan perkembangan pesat sejak latihan hari pertama. Jeff ,tanpa disadari oleh dirinya sendiri, mulai memahami konsep Ki-Ken-Tai-Ichi. Gerakannya semakin mantap dan kiai-nya jauh lebih lantang disbanding saat pertama kali. Di akhir latihan sore itu, setelah pujian bertubi-tubi dari sang guru, Jeff bertanya, sambil tersipu-sipu, apakah ia boleh menggunakan pedang sungguhan. Sora menyuruhnya push-up handstand 50 kali saat itu juga.

Satu bulan telah berlalu sejak hari pertama latihan. Hukuman masih terus berlanjut, malah bertambah karena Jeff terus menerus merengek meminta kesempatan membelah sesuatu dengan katana sungguhan. Jeff bosan dengan kayu dan bambu. Di rumah ia berlatih menggunakan bokken, di dojo, Sora melatihnya dengan shinai. Jeff tidak menyerah, meski berkali-kali dihukum sampai dihardik oleh gurunya dan ditertawakan Dirga, ia tetap meminta berlatih dengan pedang berbilah metal setiap ada kesempatan. Hari itu, Sora mencapai batas kesabarannya. “Sekali lagi meminta katana, jangan kembali lagi ke sini.” Kalimat itu meluncur sedingin es dari mulut Sora. Kedua muridnya bungkam. Terutama Dirga. Ia tahu jika gurunya sudah seperti ini, ia tak main-main. Jeff hendak membuka mulutnya lagi namun segera dibekap oleh partner serta senior latihannya selama satu bulan. Jeff melepaskan diri dari bekapan Dirga, ia terdiam sejenak membungkuk kepada guru yang memunggunginya seraya meninggalkan dojo tanpa berkata apa-apa.

Jeff menahan air matanya agar tidak tumpah saat itu. Ia tak mengerti mengapa Sora bisa semarah itu kepadanya. Dirga diberi kesempatan untuk berlatih dengan pedang sungguhan dan dummy. Ia hanya ingin mencoba mengayunkan pedang dengan bilah metal sungguhan. Sendiri saja, tak perlu partner, tak perlu dummy. Ia merasa dirinya sudah siap. Kenapa? Jeff berjalan semakin cepat, kemudian berlari tanpa melihat ke depan hingga ia tiba-tiba menabrak sesuatu di depannya, yang segera disadarinya sebagai seseorang. “Ma..Maaf. Punten[29]” Ujarnya lemah sambil berusaha bangun kemudian mendongak untuk melihat siapa gerangan orang itu. “Nggak apa-apa. Lain kali hati-hati, dik.” Ujar orang itu ramah sambil membantu Jeff bangun. “Eh, itu pedang kayu? Kamu latihan pedang?” Tanya pria berwajah ramah itu. Jeff melihat bokken miliknya kemudian mengangguk ke pria itu. “Sudah berapa lama latihan pedang?” Tanyanya lagi. “Sebulan.” Jawab Jeff polos. “Eh sampai lupa, nama kakak Anton, nama kamu siapa?” Anton menjulurka tangannya untuk bersalaman, Jeff menyambutnya sambil tersenyum, “Jeff.” Jawabnya. “Saya juga suka pedang, kamu mau lihat koleksi saya?” Mata Jeff mendadak berbinar, “pedang sungguhan?” Anton mengangguk seraya tersenyum. “Kamu pernah coba latihan pedang sungguhan? Katana?” Jeff menggeleng. “Hehe, kamu masih kecil sih, ya..” Ada jeda pada kalimat Anton. Jeff menatap pria itu tanpa berkedip, seperti anak kecil yang sudah dijanjikan mainan baru, “tapi kalau cuma lihat dan pegang saja, boleh deh. Ayo.” Anton berjalan diikuti Jeff yang kini tersenyum riang dibelakangnya.

Jeff tak henti-hentinya terkagum-kagum dengan koleksi Anton. Ia seperti masuk ke museum pedang. Mulai dari beragam pedang pendek sepanjang tak lebih dari 30cm, sampai beberapa pedang-pedang raksasa yang melebihi tinggi badannya terpajang di ruangan itu. Semuanya punya nama yang tertulis di bagian bawah display kaca tempat semua pedang itu dipajang. Mata Jeff tertuju pada sebuah pedang berukuran panjang kurang lebih 65cm yang berwarna hitam dari ujung bilahnya sampai ke gagangnya. Pedang itu hanya sedikit saja lebih pendek daripada yang ada di rumah. “Itu namanya uchigatana[30].” Anton seperti menebak isi kepala Jeff yang tak henti-henti memandangi pedang hitam itu. “Bukan katana?” Tanyanya kemudian. “Katana lebih panjang. Biasanya sekitar kurang lebih satu meter. Kalau yang ini pas buat kamu ya.” Bagai disiram air dingin di siang yang terik, Jeff menoleh dengan cepat ke arah Anton. ”Mau coba pegang? Ya, mau tes memotong sesuatu juga boleh.” Anton membuka kunci rak kaca itu dan mengambil uchigatana hitam legam itu dan menyerahkannya ke Jeff. “Jangan dibuka dulu ya.” Tangan Jeff gemetaran, jantungnya berdebar-debar membayangkan ia dapat merasakan menggunakan pedang sungguhan. “Ini… Beneran boleh?” Anton menaikkan kedua alisnya. “Kamu udah latihan kan? Mari kita lihat. Kalau gagal kamu nggak akan saya izinkan menyentuh pedang sungguhan lagi.” Jeff menelan ludah dan menarik napas panjang.

Di halaman belakang rumah Anton, Jeff memulai dengan kuda-kuda tengah sperti biasanya ia berlatih dengan sora. Bedanya, kini ia menghunus sebilah uchigatana yang menurut keterangan Anton dibuat pada tahun 1899. Jeff agak gugup namun ia mampu berdiri dalam posisi chūdan-no-kamae dengan mantap. Di depannya berdiri training dummy yang dilapisi jerami serta karung goni. Anton tidak member aba-aba, ia menunggu kapan Jeff siap. “HAAA!” Jeff mengayunkan pedangnya sekuat tenaga. Keraguan dan rasa gugup yang tadi tampak jelas di wajahnya mendadak lenyap ketika ia meneriakkan kiai dengan lantang dan membelah dummy itu dengan potongan diagonal yang rapi. Anton terbelalak. Jeff lebih kaget. “Eh… Gimana? Rusak ini, aduh.” Bocah itu panik sambil masih menggenggam uchigatana-nya dengan kuat. “Enggak apa-apa, Jeff. Itu Cuma dummy di dalam masih banyak.” Jeff menunduk sambil menatap pedang di tangannya lekat-lekat. Ada perasaan yang bercampur aduk di dalam dirinya. “Kamu cocok sama dia, ya.” Ujar Anton yang kini berjongkok di depannya.  Jeff masih diam.  “Kamu mau belajar di sini?” Tawaran itu bagai alarm yang membangunkan Jeff dari lamunannya. “Eh.. Mau.. Tapi.. Enggak bisa.” Ia menggeleng. “Kenapa? Enggak ada salahnya belajar di dua tempat kan? Kamu bisa datang kapan saja kok ke sini.” Anton tersenyum ramah. Jeff berpikir sejenak. “Senin dan Kamis.” Ujar bocah itu. “Oke, sampai jumpa hari kamis, Kenshikun.” Balas Anton sambil mengacak-acak rambut Jeff. Jeff pulang dengan dada bergemuruh. Ia senang sekali ada yang mengakui kemampuannya namun ada hal lain yang mengganjal. Malam itu ia tidak bisa tidur.

 

4.

Jeff berlatih seperti biasa setiap harinya. Pagi sebelum berangkat sekolah ia pergi jogging dan melakukan latihan sendiri sementara siang ia berlatih bersama Dirga dan Sora. Ia semakin mahir dan Sora mengakui itu. Setiap Senin dan Kamis, Ia meminta izin untuk pulang latihan lebih awal dengan alasan les pelajaran sekolah. Jeff berbohong, ia berlatih bersama Anton seminggu dua kali dengan pedang sungguhan. Semuanya lancar selama beberapa minggu sampai akhirnya, Jeff memutuskan untuk tidak lagi datang ke tempat Sora. Ia bosan. Ia bosan dengan latihan dengan kayu, ia bosan membersihkan dojo, bosan dengan pujian dari Sora yang tak pernah lebih dari satu kata : bagus. Berbeda dengan Anton yang memberinya kebebasan. Jeff berlatih dengan banyak jenis pedang mulai dari tanto yang lebih mirip pisau panjang untuk pertarungan jarak dekat, hingga katana sepanjang satu meter lebih. Anton juga sangat sering memuji sekecil apapun perkembangan Jeff dan yang paling penting, Jeff suka dipanggil Kenshi oleh Anton. Kini sudah lebih dari seminggu Jeff tak pernah muncul di dojo milik Sora.  “Sensei, apa tidak sebaiknya kita datangi ke rumahnya?” Tanya Dirga sore itu. Sora tidak merespon. Ia masuk ke dalam, mengambil sebuah folder dan kembali muncul di halaman belakang. Sore itu, Julio Sora membuka masa lalunya kepada Dirga.

Di tempat lain tak terlalu jauh dari kediaman Sora dan Dirga, Jeff berlatih pertarungan jarak dekat dengan menggunakan tanto[31] sepanjang 30cm. Ia dengan lihai dan tanpa kesulitan mengkombinasikan gerakan kaki serta tubuhnya dan mengalirkan segenap tenaga ke tiap-tiap tebasan dan tikaman ke arah training dummy itu. Anton mengamati dari tepi teras belakang, “Kenshi!  Waktunya evaluasi!” Jeff menoleh ke arah suara, wajahnya berpeluh. Ia mengangguk dengan cepat. Evaluasi dilaksanakan dengan jenis pedang apapun yang sedang digunakan oleh Jeff saat sedang berlatih di hari itu. Artinya, hari ini evaluasi untuk tanto. Jeff sudah dievaluasi dengan 4 jenis pedang sejauh ini dan semuanya cukup memuaskan terlepas dari evaluasi katana yang cukup membuatnya kerepotan karena ukuran yang masih kurang proporsional dengan tinggi badannya. “Siap?” Anton bersiap dengan kuda-kuda tengah sementara Jeff dihadapannya  maju dengan kuda-kuda atas.Dalam evaluasi, Anton akan mengenakan pakaian pelindung dan hanya akan menggunakan bokken  untuk menangkis serangan Jeff serta melakukan serangan balasan seperlunya. Jeff mengambil langkah pendek kemudian menyamping ke kiri untuk mencari celah masuk. Kuda-kudanya berubah seketika. Ia mengincar bagian tengah tubuh Anton dan berusaha menusukkan tanto ke arah perut yang tertutup pakaian pelindung. Sang guru dengan sigap mundur satu langkah sambil berusaha menyerang tangan kanan Jeff. Serangan yang langsung dihindari dengan melompat diagonal ke depan. Tubuh kecil Jeff memberinya ruang untuk melancarkan serangan berikutnya. Tanto itu diayunkan ke diagonal ke atas mengiris Kevlar[32] yang dikenakan Anton dengan sempurna. Rompi itu lepas. “Cukup.” Ujar Anton sambil mengatur napas. Nada suaranya terdengar puas. Jeff membungkukkan tubuhnya diikuti dengan Anton. Jeff pulang lebih sore dari biasanya, dengan santai ia berjalan keluar dari rumah guru barunya. Ia tak menyadari kehadiran Dirga di belakangnya.

“Kau yakin rumah yang itu, Ga?” Tanya Sora. Nada bicaranya tegang. Dirga menceritakan pertemuannya dengan Jeff sore tadi. Ia menjelaskan kepada Sora bahwa Jeff membawa-bawa pedang kayunya dan pulang dengan kondisi seperti habis berlatih. Ia juga menerangkan bahwa ada yang berbeda dari pembawaan Jeff. Perbedaan yang tidak dapat ia jelaskan.  Sora menghela napas panjang kemudian mengembuskannya kuat-kuat. Ia diam sejenak mencerna penjelasan Dirga. “Kamu yakin dia nggak sadar atas kehadiranmu tadi?” Tanya Sora. “Yakin, sensei. Jeff sama sekali nggak menoleh.” Jawab Dirga seraya mengangguk. “Bagus kalau dia tidak sadar kamu ikuti. Besok, kita berdua ke sana.” Sora masih berbicara dengan nada serius. Apa yang ia khawatirkan nampaknya menjadi kenyataan.

Jeff tiba di rumah dengan senyum lebar. Dadanya membusung ke depan dan ia bersiul-siul senang. Pujian dari Anton masih terngiang di kepalanya dengan jelas. Posisi uchigatana sebagai pedang favorittelah digantikan oleh tanto. Jeff melenggang masuk ke dapur dan membuka kulkas, mengambil sekotak susu dan meminumnya sampai habis kemudian melempar kotak kosong itu ke sembarang arah. “Jeff, kenapa terlambat pulang?” Suara ayah dari belakang mengagetkan Jeff yang buru-buru mengambil kotak susu kosong yang baru saja dilemparkannya. “Eh, anu yah.. Latihannya keasyikan.” Ayah tersenyum, “bagus kalau begitu. Gurumu apa kabar?” Jeff terdiam cukup lama. “Jeff?” Ayah mendesak. “Baik yah, dapat salam dari Sora-sensei.” Ujarnya berbohong.  Ayah mengangguk,“besok kamu bawa sarung dan gagang pedang tempo hari, serahkan kepada Sora. Sudah dua bulan kamu berlatih artinya sudah waktunya. Oh ya, minggu depan kamu ujian tengah semester kan? Bilang Sora, latihannya libur dulu.” Jeff berusaha menahan wajahnya agar tidak terlihat bingung atau bahkan panik. “Si..ap yah.” Sampai kamar, Jeff buru-buru memasukkan gagang pedang beserta sarungnya itu ke dalam tas. Ia bingung setengah mati.

Latihan hari itu berantakan, Jeff tidak fokus dan menerima 3 pukulan bokken milik Anton masing-masing di pinggang, bahu kanan dan pergelangan tangan. “Kalau ini katana, kamu sudah habis, Jeff.” Anton berkata dengan dingin sambil menghunus pedang kayunya ke arah dagu Jeff. “Cukup untuk hari ini. Silakan pulang.” Jeff gemetar. Setelah sekian lama dipuji dan disanjung  oleh sang guru, hari itu ia bagai tersambar petir. Belum pernah sebelumnya Anton menyuruhnya pulang seperti itu. “Jeff segera mengambil tas miliknya. “Maaf, sensei.” Ujar Jeff lemas seraya meninggalkan halaman luas itu.

Sebuah tepukkan di bahunya yang memar membuat Jeff terlonjak. Ia refleks melompat berbalik arah, memasang kuda-kuda dan bersiap menghunus bokken. “Refleksmu makin bagus, Jeff. Sudah puas main-main dengan logam pembunuh?” Sora menatap Jeff dengan tatapan teduh dan bersahabat. Ia kemudian berjongkok di hadapan murid kecilnya. Mengacak-acak rambut bocah itu. Jeff menunduk, ia malu. Air mata jatuh dari pipinya yang lecet-lecet.

Sora datang dengan nampan berisi poci teh, tiga cangkir kecil dan setoples biskuit. Sementara itu Dirga mengompress memar-memar Jeff. “Kamu bawa kiriman ayahmu?” Sora-sensei bertanya sambil menuangkan teh ke cangkir-cangkir kecil itu. “Ada di tas, sensei.” Jawab Jeff lemah. Sora memberi kode ke Dirga. Dengan sigap ia mengambil titipan ayah Jeff dari ransel itu dan menyerahkannya ke Sora. “Jeff, ayahmu dan aku adalah teman seperguruan.” Jeff terbelalak mendengar pernyataan mengejutkan itu. Ia menatap Sora dan Dirga berganti-gantian. Ia makin kaget melihat Dirga santai-santai saja. “Dan kakekmu adalah guru kami.” Dirga menyesap tehnya sementara Jeff menganga. Kaget setengah mati.

Sora menceritakan semuanya. Sama persis dengan apa yang ia ceritakan kepada Dirga. Pertemuannya dengan aki Jeff saat ia masih di sekolah menengah dahulu, pertemanannya dengan ayah Jeff yang mirip dengan pertemanan Jeff dan Dirga. Satu hal yang berbeda adalah, aki memiliki 3 orang murid dan murid ketiga adalah bagian yang membuat Jeff merinding. Diantara ketiga murid yang dimiliki aki, Sora dan Toni adalah rival sementara ayah Jeff sebagai yang paling senior, seringkali menengahi mereka berdua yang sering bertengkar meributkan siapa yang lebih hebat. Semuanya terkendali. Latihan setiap hari berjalan lancar sampai suatu hari terjadi insiden percobaan pencurian yang meskipun gagal, telah menyebabkan aki cidera serius hingga tak mampu lagi melatih ilmu beladiri pedang. Hal yang membuat insiden itu tragis dan mengkhawatirkan bukan hanya karena cideranya aki atau pedang yang nyaris dicuri, melainkan pelaku percobaan pencurian tersebut yang tak lain adalah Toni. “Kini pedang itu ada di rumahmu.” Ujar Sora pelan. Jeff terdiam, masih tak tahu harus merespon apa. Ia masih terlalu kecil untuk tahu fakta mengkhawatirkan semacam ini. Sebelummelanjutkan ceritanya, Sora memperlihatkan Jeff sebuah foto. “Ini aku, ayahmu, dan Toni.” Jeff kembali kaget untuk kesekian kalinya. “Ini… Anton-sensei.” Pekiknya kaget. Sora menatap Jeff dengan tajam.  Dari ekspresinya, ia tampak sedikit terkejut. “Ternyata benar. Toni punya kembaran.” Ujar Sora. “Toni sudah meninggal 3 tahun sejak insiden itu. Ia meninggal setelah koma selama 3 mingu akibat cedera serius di leher setelah turnamen kendo. Di hari meninggalnya Toni, sebuah surat  tergeletak di depan rumah kakekmu. Surat itu ditulis oleh seseorang yang mengaku sebagai saudara kembar Toni. Isinya berupa ancaman kalau pedang itu, entah bagaimana caranya, akan mereka rebut kembali demi nama baik keluarga mereka dan dendam Toni akan dibalaskan…” Sora berhenti sejenak.  Jeff mendengarkan dengan serius. “Apa kaitannya kematian Toni dan pedang warisan itu? Pertama-tama, pedang itu adalah pedang pusaka peninggalan kekaisaran Tokugawa  yang dimenangkan oleh kakek buyutmu dari seorang komandan jepang setelah beliau membunuh sang komandan dalam duel pedang satu lawan satu yang adil. Jadi kakek buyutmu berhak atas pedang tersebut. Permasalahannya adalah, keluarga sang komandan tak terima dan terus berusaha merebut kembali pedang peninggalan leluhur mereka. Beberapa kali ancaman dan percobaan pencurian berhasil digagalkan oleh kakekmu dan kakek buyutmu sampai akhirnya semuanya kembali normal hingga semuanya lengah dan tidak melacak silsilah keluarga Toni yang ternyata adalah cucu dari musuh lama kakek buyutmu. Kedua, lawan terakhir Toni di turnamen itu adalah… Aku.”

Pikiran Jeff tercampur aduk. Kepalanya pusing. Informasi yang didapatnya hari itu membuatnya tak bisa tidur. Dirga yang mengantarnya pulang setelah ia menolak diantar oleh Sora. Sampai rumah ia tak bicara dengan Ayah sama sekali. “Ayahmu ingin kau belajar pedang untuk meneruskan tradisi dan melindungi apa yang dimiliki leluhurmu namun kakekmu menentangnya karena ia tidak mau ada insiden serupa terjadi. Sudah berkali-kali ayahmu dan kakekmu bertengkar masalah pedang itu. Trauma kakekmu masih belum hilang. Beliau tak mau berurusan dengan pedang lagi, terutama setelah insiden tewasnya Toni. Meski demikian, ayahmu berkeras. Ia sudah menghubungiku sejak kau masih di taman kanak-kanak. Itulah sebabnya aku pindah kembali ke sini.” Suara Sora masih terngiang-ngiang di kepala Jeff malam itu. “Pedangmu akan siap dalam dua minggu. Sudah waktunya kau punya pedang sendiri. Tentu penggunaannya harus dibawah pengawasan ayahmu.”Jeff tak tahu harus percaya pada siapa. Sora menutupi terlalu banyak hal darinya, ayahnya sama saja, sementara Anton sudah sangat kecewa padanya. Malam itu Jeff memutuskan berhenti berlatih pedang pada siapapun.

5.

Dirga sampai di rumah dan mendapati secarik kertas tertempel di Styrofoam lebar di ruang tengah. ‘aku ada urusan mendadak dan baru pulang besok sore.’ Dirga mengerutkan dahinya. Ada yang janggal dengan tulisan gurunya, Sora tak pernah lupa memulai kalimat dengan huruf kapital. Bergegas ia memeriksa kamar sang guru, rapi dan lengkap. Gurunya selalu membawa ransel jika bepergian dan harus menginap.Ia semakin curiga. Dirga menghubungi ponsel Sora dan terdengar nada dering dari dalam laci di kamar. Semakin aneh, pikirnya. Dirga semakin gelisah dan memeriksa dojo. Ia menyalakan lampu di pojok ruangan tempat ia biasa berlatih itu. Sarung dan gagang pedang milik Jeff telah hilang dari tempatnya. Di beberapa titik, terdapat bercak darah dan lantai kayu yang retak, beberapa rak berjatuhan. Di antara benda-benda yang berserakan di dalam dojo, selembar kartu tergeletak di dekat bercak darah paling besar di dekat tempat Dirga berdiri. Ia memungut kartu itu. Bagian depan tertulis alamat rumah Sora dalam tinta merah. Dirga membalik kartu dan mendapati alamat lain tertulis dalam tinta biru. Ia mengenal alamat itu.

Sora terbangun di sebuah ruangan pengap yang tak memiliki ventilasi sama sekali. Lampu ruangan itu redup dan berkedip tiap beberapa detik. Tangan dan kakinya terikat. Hal terakhir yang diingatnya adalah segerombol orang, empat sampai lima orang, masuk ke dalam rumahnya kemudian berusaha mencuri gagang pedang beserta sarung yang dibawa Jeff kepadanya. Ia berusaha melawan namun kalah jumlah dan sengatan tajam yang menusuk lehernya menghilangkan kesadarannya. “Apa kabar Julio Sora?” Suara itu asing, namun Sora tahu siapa yang bicara kepadanya. “Memperalat anak kecil untuk balas dendam. Kau sama pengecutnya dengan kembaranmu di neraka.” Sora berusaha mengintimidasi Anton namun yang orang di depan pintu itu malah tertawa keras. “HAHAHA… Kakak bilang pepatah favoritmu adalah ‘dapat dua burung dengan satu batu’, Saya hanya berusaha menerapkan kata-kata bijakmu itu. Balas dendam, check. Merebut pedang, check.”  Sora terdiam, kemudian terkekeh. “Hehe.. Pedang? Maksudmu gagang kosong?”Raut wajah Anton berubah, ia segera memerintahkan anak buahnya untuk memeriksa hasil rampasannya yang ternyata hanya gagang dan sarung pedang kosong. “Lain kali, sewa mata-mata yang lebih berpengalaman, Anton.” Sora kembali terkekeh. Anton tersenyum. Sambil menutup pintu dengan sangat perlahan ia mengatakan sesuatu,”I get what I want, Sky.

**

Langit siang itu mendung. Tak tampak sedikitpun matahari atau corak biru. Semuanya tertutup awan. Dari dalam gedung sekolah, Jeff berjalan lemas menuju gerbang. Belum pernah ia semurung itu sepulang sekolah di akhir pekan. Bahkan tegur sapa pak Jajang hanya dibalas senyum kecut yang dipaksakan oleh Jeff. Hari ini ia tidak menitipkan apa-apa di pos satpam. Jeff ingin langsung pulang dan tidur. Tidur saja sampai hari senin kemudian masuk sekolah lagi. Ia tidak butuh libur. Libur hanya membuatnya merindukan hari-hari latihan pedang. Jeff berjalan dengan lesu sambil memikirkan ia akan bilang ke ayah untuk ikut kursus musik saja. Mungkin gitar atau drum menyenangkan, pikirnya.

Kenshi.” Jeff menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sumber suara yang ia kenal. Tak ada siapa-siapa. Ia kemudian menepuk-nepuk kepalanya. “Stress nih kayaknya.” Gumamnya pelan seraya lanjut berjalan. “Kenshi! Di belakang sini!” Suara itu makin jelas. Jeff berbalik, melihat Anton berdiri dengan senyum ramah yang sama seperti biasanya. “Sensei?” Otaknya secara otomatis menggerakkan kaki-kakinya untuk berjalan mendekat ke sang guru. “Maafkan saya. Seharusnya saya tidak terlalu keras kepada kamu.” Ujar Anton dengan nada menyesal. “Saya yang mohon maaf karena mengecewakan sensei.” Ujar Jeff. Ia belum berani menatap langsung wajah gurunya. “Hari ini kita mulai latihan lagi, ya? Tapi sebelumnya, sebagai permohonan maaf, ayo kita makan siang dulu. Kamu pilih mau makan di mana.” Jeff tersenyum mendengar gurunya sudah tidak lagi marah kepadanya.Sepanjang jalan, mereka mengobrol dengan akrab seperti sedia kala.Sekilas memori tentang Sora terlintas di ingatannya. Ingatan yang langsung dibuang jauh-jauh. “Pembohong.” Gumamnya pelan.

**

Dirga berusaha tetap tenang. Ia membaca ulang alamat di kartu itu untuk meyakinkan dirinya bahwa dugaan awal yang dipikirkannya tadi tak meleset. “Tak salah lagi, gumamnya.” Ia mempercepat kayuh sepedanya.  Tas ransel berukuran cukup besar tergantung di pundaknya.Kurang dari 10 menit, ia sampai di perempatan dekat alamat tujuannya. Ia memarkirkan sepedanya di depan sebuah minimarket dan bergegas menuju alamat di kartu tersebut.

Rumah itu besar. Dirga melacaknya melalui google maps dan menemukan alamat yang persis sama dengan apa yang tertera di kartu. Setelah mengamati sekitar dan tidak yakin tidak ada yang melihatnya, Dirga memanjat dan dengan sukses menyusup melalui halaman samping dari rumah itu. Kini ia bersembunyi di semak-semak tanaman hias rumah itu sambil mengamati sekitar. Tidak ada penjagaan sama sekali. Firasat buruk menguasai pikirannya. Tak mungkin kosong melompong begini. Terlalu mudah. Apa ia salah alamat? Dirga mengeluarkan ponselnya untuk memeriksa kembali kecocokan alamat tujuannya dengan kartu yang didapatnya tadi. Saat ia sibuk dengan ponselnya, sebuah sengatan mendarat di lehernya. Pandangan Dirga mengabur dan segera semuanya berubah gelap.

**

Latihan sore itu selesai dengan baik. Anton puas dengan perkembangan Jeff seperti biasanya. Hari itu latihan dengan dua tanto dan Jeff mampu menguasai berbagai impovisasi serangan dan pertahanan bahkan beberapa melakukan serangan balasan tak terduga. “Baiklah cukup latihannya, Kenshikun.” Ujar Anton. Keduanya saling membungkuk tanda hormat dan terimakasih. “Ikut aku, ada yang ingin kuperlihatkan.”  Anton berjalan kea rah bagian rumah yang belum pernah dilalui oleh Jeff. Letaknya di antara tembok sebelah kiri dan bangunan rumah yang membentuk gang sempit. Dari depan, harusnya tempat itu buntu, namun ternyata ada pintu di sana. Gudang kecil. Jeff membayangkan pedang jenis apa yang akan diperlihatkan oleh gurunya hari ini. Pintu itu dibuka. Gelap. Hanya sedikit cahaya yang masuk ke sana namun mata Jeff cukup tajam untuk melihat ada dua orang di dalam sana. Dua orang yang membuat napas Jeff tertahan.

Lututnya lemas. Jeff ambruk di dalam gudang itu. “Nah, Kenshi-kun. Kau ingin mereka bebas? Atau ingin tinggal di sini bersama mereka?” Anton berkata sambil lalu. Ia menekan stop kontak untuk menyalakan lampu. Terang lampu neon memperlihatkan dengan lebih jelas sosok kedua orang itu dihadapan Jeff. Keduanya terikat di kursi kayu yang saling berhadapan. Dirga tertunduk. Jeff tak bisa melihat jelas kakak seperguruannya karena ia memunggungi pintu. Sementara Sora mendongakkan kepala seperti menolak untuk tunduk. Wajahnya bernoda darah dan memar di mana-mana.Keduanya tampak tak sadarkan diri. Jeff tak sanggup berdiri. “Bebaskan! Bebaskan mereka!” Teriaknya sambil mencengkeram kaki Anton sekuat tenaga. Satu-satunya pria yang berdidi tegak diruangan itu terkekeh menyaksikan bocah ingusan menangis di bawah kakinya. “ Boleh, boleh saja. Tapi nggak ada yang gratis. Kita barter. Oke?” Jeff menatap tajam ke atas. Terpikir untuk menggigit sekuat tenaga kaki orang itu. Tapi ia masih berusaha berpikir. “Apa? Mau apa kamu?” Tanya Jeff putus asa. Ia tak sanggup melihat dua orang yang pernah membimbingnya itu disiksa sedemikian rupa.Meski masih ada sedikit rasa kecewa terhadap Sora, tapi ia kini sadar guru barunya, Anton, bukan orang yang layak dijadikan panutan.“Oni Messatsu[33].” Ujar Anton dengan aksen Jepang yang sangat kental.Seperti tiap ia memanggil Jeff dengan sebutan Kenshi-kun. Butuh beberapa detik sampai Jeff sadar yang dimaksud Anton adalah pedang hitam yang tergantung di ruangan kerja ayah.  “Jeff… Jangan dengar… Dia.” Suara itu parau namun tegas. “Oni Mesatsu memilih… pemiliknya. Ia milik keluargamu. Sudah dibuktikan… bertahun-tahun silam.” Sora berbicara tersengal. Ia bisa merasakan rusuknya sakit sekali, kemungkinan besar patah. Jeff terdiam. Ia tak tahu harus apa. Lagi-lagi ia dihadapkan pada pilihan mendengarkan Sora atau menuruti kemauan Anton. “Hehe.. Hehe.. Diam kau pembunuh!” Anton berteriak kalap setelah terkekeh penuh ejekkan sambil melempar sebuah pisau lempar yang mendarat hanya satu sentimeter dari daun telinga Sora. “Penawan terakhir, Kenshi-kun. Jika pedang itu kembali, mereka bebas. Namun jika kau tidak bersedia mengantarkan pedang itu sebelum pukul 6 esok pagi, tak ada lagi Sora-sensei dan kak Dirga, deal?” Anton mendekatkan wajahnya ke wajah Jeff seraya membisikkan tawaran itu sambil menatap tajam mata sandera yang terikat di kursi, memastikan Sora mendengarnya. Jeff tidak memberikan respon apa-apa. “Oke. Diam berarti setuju. Silakan pulang, murid kebanggaanku. Mari diantar” Ujar Anton sambil mengacak-acak rambut Jeff kemudian mengantarnya ke luar. Pintu gudang dikunci kembali dari luar.  Dirga menggoyangkan lengannya segera setelah Anton meninggalkan gudang. Dari dalam jaketnya, sebuah pisau seukuran telunjuk meluncur ke genggaman tangannya. “Sensei, senseiI.. Kita harus keluar dari sini!” Seru Dirga pelan sambil berusaha memotong tambang yang mengikat  pergelangan tangannya di sandaran kursi. Sora tersenyum. “Siapa yang izinkan kamu bawa pisau dan senjata?” Dirga terkekeh mendengar pertanyaan gurunya.

Jeff tiba di rumah dengan wajah murung. Jelas sekali matanya bengkak dan wajahnya sembab.Oleh karenanya, ia menghindari bertemu penghuni rumah yang lain. Cepat-cepat ia lari ke kamar dan mengunci pintu. “Harus bagaimana?” Bocah itu bertanya pada dirinya sendiri. Meski dilatih mandiri dan terbiasa dengan hal-hal berbahaya karena rasa penasarannya yang tinggi, Jeff tetaplah anak-anak yang tak tahu harus apa saat nyawa orang lain bergantung pada tindakannya. Ia kembali menangis sambil memeluk lututnya.

**

Gudang itu terkunci rapat dari luar. Tak ada ventilasi atau jalan keluar selain melalui pintu. Bahkan langit-langit gudang itu pun terbuat dari semen padat. “Dia menyewa beberapa profesional untuk menjaga rumahnya. Mereka tak terlihat. Kamuflase.” Sora menjelaskan. “Kelompok yang sama dengan yang menyerang sensei di rumah?” Tanya Dirga. Sora mengangguk. Itu menjelaskan mengapa semuanya sangat sepi dan janggal saat ia menyusup untuk menyelamatkan gurunya. “Saat pintu dibuka nanti, itu satu-satunya kesempatan kita untuk melawan. Gunakan apa saja yang ada di sini sebagai senjata.”

**

Ia sudah memutuskan. Apapun risikonya, ia tak mau sampai ada orang yang harus mengorbankan nyawanya demi sebuah pedang berusia ratusan tahun. Jeff turun untuk makan malam dengan ibu. Ayah belum pulang dari menjemput kakaknya. Ia berusaha tampak tenang. Meski demikian wajahnya masih tampak tak seceria dan sesegar Jeff yang biasanya. “Kamu sakit, nak?” Tanya ibu yang melihat anak bungsunya pucat dan lemas. ‘Itu dia! Sakit!’ Pekik Jeff dalam hati. “Agak lemes, bu. Demam deh nih. Minta obat dong.” Jawab Jeff lesu. “Eh? Aduh kamu mau ujian malah sakit! Sebentar ibu ambilinplester penurun panas.” Ibu meningalkan meja makan dan masuk ke kamar. Dengan gesit Jeff mengambil kunci cadangan seluruh ruangan di rumah yang ada di laci belakang meja makan. Setelah kunci didapat, langsung ia kembali duduk sambil berakting lemas. “Nih, kalau besok pagi belum turun baru minum obat. Sekarang tidur.” Jeff menerima plester tanpa berkata apa-apa seraya meninggalkan meja makan dan naik kembali ke kamarnya. Ayah akan pulang beberapa saat lagi dan ibu tidak akan tidur sebelum ayah dan kakaknya pulang. Ia harus menunggu hingga seluruh penghuni rumah tidur.

**

Anton berdiri di hadapan lemari kaca berisikan berbagai pedang miliknya. “Sebentar lagi. Akan kubalaskan dendammu dan kukembalikkan kehormatan keluarga kita, adik. Setelah itu, tak perlu lagi kupinjam identitasmu.” Ia medongakkan kepalanya, menatap foto di atas lemari itu. Foto dua orang kembar identik yang saling merangkul dan tersenyum ceria.

**

Bunyi detik jam dinding menjadi satu-satunya suara di kamar Jeff. Sudah mendekati pukul 12 dan bisa dipastikan semuanya sudah tidur. Jeff menarik napas panjang kemudian megembuskannya kuat-kuat. Tak ada pilihan lain. Ia harus pergi. Sendirian. Hatinya kalut, pikirannya kacau. Ia takut namun ia lebih takut jika ayah tahu dan terlibat dalam masalah ini. Ia membayangkan seperti di film-film jika menelpon polisi, selesai sudah. Anton akan membunuh gurunya dan Dirga sekaligus. Jeff turun menuju ruang kerja ayahnya dengan membawa senter kecil. Dibukanya pelan-pelan pintu kayu itu setelah dengan sangat perlahan ia memasukan dan memutar anak kunci bertuliskan ‘RK’ berwarna perak. Pintu terbuka, Jeff menyalakan senter dan menyorot tembok di depannya. Katana hitam itu tergantung di sana. Jeff bergegas memanjat kursi di belakang meja dan mengambil katanya beserta sarungnya dengan sangat perlahan. Ia turun dengan hati-hati dan segera keluar dari ruang kerja ayahnya, mengunci pintu, dan meletakkan kembali segerombol kunci itu di dalam laci dimana ia mengambilnya tadi. Kini ia berjalan ke pintu belakang yang hanya bisa dikunci dari dalam. Mengendap-endap Jeff keluar dari rumah dan kini sudah berada di halaman.  Dengan setengah berlari, ia menuju tembok samping dan memanjat dengan sigap lalu melompat keluar. Sukses! “Saha eta?!” Jeff kaget mendengar suara setengah membentak dari belakang. Tanpa menoleh,  Ia berlari sekencang-kencangnya.Salah satubapak dalam kelompok jaga malam itu menggaruk kepalanya karena bingung, “Maling? Tuyul?” Gumamnya. “Heh! Kita laporin ke bapak yang punya rumah! Siapa tau beneran maling!” Bapak yang lain memberi saran.

Ayah Jeff yang mendengarkan penjelasan bapak-bapak komplek yang memberi tahu ada seseorang keluar memanjat pagar rumahnya langsung menyalakan semua lampu dan memeriksa dengan teliti barang-barang di rumahnya. Tak ada yang hilang. “Coba periksa kamar-kamar, pak. Dibangunkan saja yang lain.” Ujar salah seorang bapak. Ayah setuju dan segera membangunkan setiap orang di rumah, namun ketika masuk ke kamar Jeff, anak itu tidak ada. “Jeff hilang? Diculik?” Ibu nyaris pingsan sementara kakak Jeff sibuk mencari adiknya ke seluruh penjuru rumah. Ia bahkan masuk ke ruang kerja ayah. Matanya terbelalak saat lampu dihidupkan. “AYAH! PEDANG KAKEK… HILANG!” Mendengar teriakan itu, ayah bergegas ke garasi menghidupkan mobil. “Kamu jaga ibu! Adikmu pasti belum jauh. Bapak-bapak silakan lanjutkan jaga malamnya. Itu bukan maling, itu si Jepri!” Ayah berkata sambil lalu menuju garasi, buru-buru menyalakan mobil dan langsung ngebut menyusuri gelapnya malam itu.

**

“Ada yang datang.” Ujar Sora. Suaranya masih parau dan seperti menahan sakit di bagian dada dan perut. “Siap?” Dirga mengangguk mantap. Tangan kanannya menggenggam pisau pendek yang tadi disembunyikannya di balik jaket  sementara gurunya bersiap dengan pisau yang dilempar oleh Anton tadi.Sora menaikkan stop kontak. Gudang itu gelap. Tak lama kemudian, terdengar suara kunci diputar dari luar. Pintu terbuka. Tepat ketika semburat cahaya masuk ke dalam gudang, Sora menarik dengan sekuat tenaga orang paling depan dan menghantamkan gagang pisau ke wajah orang itu sekuat tenaga kemudian menyeretnya masuk. Mendengar bunyi hantaman, penjaga lain datang menuju sumber keributan. Tiga orang datang dengan bersenjatakan tanto. Dirga dengan sekuat tenaga melempar pisau  seukuran telunjuk itu dan mendarat tepat di leher  salah seorang dari mereka. “I don’t teach you to kill, Dirga!” Setengah membentak, Sora menghantam orang kedua dengan bagian tumpul pisaunya tepat di kepala hingga orang itu pingsan. Satu orang yang tersisa berusaha melawan Sora dengan menyabetkan pedang pendeknya dengan membabi buta.  Sora dengan susah payah menghindari setiap serangan. Rusuk yang patah membatasi pergerakannya. “Gomenasai! Sensei!” Dirga berlari kencang, memungut tanto milik penjaga yang tewas dan melompat seraya menikam penjaga yang berduel dengan gurunya tepat di leher. “Dua bulan hukuman.” Ujar Sora dingin sambil berjalan cepat. Saat mereka semakin dekat dengan gerbang, lima orang penjaga muncul dari berbagai arah. Dari arah gerbang, Anton berjalan santai. Ia membawa katana di tangan kanan dan kirinya. “Waktu habis, partner.” Sora tertegun. Hanya Toni yang memanggilnya dengan sebutan partner.

**

“Jeffrey Satya Furqan!!” Ayah membentak Jeff di tengah jalan. Bocah itu gemetaran sambil menangis, air mata dan ingus mengalir sementara mulutnya terkatup rapat dan matanya melotot nyalang. Tangannya mendekap pedang itu kuat-kuat. “NGGAK!” Balas Jeff seraya berbalik. “Kalau lari lagi! Jangan berani pulang!” Jeff mematung di posisinya. Tak bergeming sedikitpun.  Ayah telah membujuknya secara baik-baik sampai dengan bentakan kasar. Ia tak mau memukul Jeff. “Sora-sensei… Dirga… Mereka bisa mati.” Ayah mengerutkan dahi berusaha mencerna perkataan anaknya. “Ada apa dengan Sora?” Jeff berbalik, berlari ke arah ayah dan memeluk sekuat tenaga sambil menangis sesenggukan. Mendadak ayah teringat akan surat kaleng berbelas tahun silam.

**

“Toni? Kamu.. Sudah mati.” Alih-alih bertanya, Sora terdengar seperti berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa yang ada di hadapannya bukanlah hantu. Jarak mereka hanya tiga meter. Di sekeliling mereka, para penjaga melingkar. Jumlahnya lebih dari sepuluh orang. Sementara Dirga bersiaga di belakang gurunya. Toni menyayat bajunya, di dadanya terdapat bekas luka yang sangat diingat Sora. Itu luka kecelakaan saat latihan khusus di gunung. “Ingat?” Ia tersenyum sinis. “Bagaimana rasanya melihat hantu?” Senyumnya semakin lebar. “Siapa yang ku lawan di turnamen itu?” Sora membayangkan orang lain mati ditangannya. Orang tak bersalah. Membayangkan tanpa sengaja membunuh Toni saja sudah mengganggunya bertahun-tahun. Kini Toni hidup namun orang lain mati karenanya. “Anton.” Jawabnya singkat. “Nih..” Toni menyerahkan katana di tangan kirinya kepada Sora. “Kau bilang Oni Mesatsu ‘memilih’ pemiliknya, kan? Jadi, karena Danny tidak ada di sini, kamu saja yang wakilkan dia, oke?” Toni memasang kuda-kuda seraya menghunus pedangnya dengan satu tangan, tangan kirinya masih mengulurkan pedang kepada Sora. Pedang itu berpindah tangan. “Gitu dong, kan laki. Hehe.” Toni terkekeh. Dirga menelan ludah.Tebasan pertama dilancarkan Toni dan segera ditangkis dengan susah payah oleh Sora yang cedera cukup serius. Serangan datang bertubi-tubi dan Sora hanya bisa bertahan dengan menangkis dan menghindar, entah sampai kapan hingga tiba-tiba seorang penjaga datang melaporkan ada seorang pria yang membawa pedang hitam. “Danny Al Furqan.” Toni menyeringai seraya menyabetkan pedangnya ke pundak Sora kemudian menendangnya di perut, membuat lawannya berteriak dan tersungkur. Sora berusaha bangkit namun tak kuasa. “Tahan, Sky! Aku harus menemui teman lama kita. Hehe.”

Danny, ayah Jeff, datang dengan katana hitam itu di tangannya. Jeff menceritakan semuanya dari awal pertemuannya dengan Anton, latihan-latihan dengan pedang sungguhan, Sora yang menceritakan kisah masa lalu hingga insiden hari itu. “Danny-senpai. Sehat-sehat saja kah?” Toni merentangkan kedua tangannya bagai orang yang menyambut kedatangan seorang sahabat. Danny terkejut melihat Toni yang hidup kembali. “Surprise.” Ujar Toni dengan riang setelah melihat keterkejutan di wajah teman lamanya. “Eh itu untukku ya? Wah baiknya papa Jeff.” Raut wajah Danny mengeras. “Kau berusaha membunuh ayahku.” Ujarnya dingin tanpa ekspresi. “Dan kalian mengambil kehormatan leluhurku.” Balas Toni. “Dan temanmu itu, membunuh adikku.” Lanjutnya sambil menunjuk Sora dengan katana. “Dan, kita nggak perlu seperti ini. Berikan Oni Mesatsu, masalah selesai. Gimana?” Danny mengeluarkan katana itu dari sarungnya. Bilah hitam itu berkilau tertimpa cahaya bulan. “Dia memilih tuannya, Toni.”

Jeff sudah sejak tadi keluar dari mobil. Ia bersembunyi di semak-semak dekat halaman tempat pertempuran sengit antara ayahnya dan mantan gurunya berlangsung. Keahlian Jeff dalam menyusup patut diacungi jempol. Tak satupun penjaga menyadari kehadirannya di rimbunnya tanaman hias itu. Jeff sudah siap dengan segenggam batu.

Pertarungan itu tidak seimbang. Toni terus menerus menyerang bertubi-tubi sementara Danny hanya menghindar dan menangkis. Beberapa kali bahkan sabetan pedang mengenai lengan dan kakinya membuat pergerakan ayah Jeff melambat. “Lihat siapa yang pantas Danny! Lihat!” Toni berteriak sambil terus menyerang hingga sebongkah batu melesat dan menghantam punggungnya dengan telak. “Arrgghh!!” Melihat lawannya lengah, Danny segera mengayunkan pedang hitamnya sekuat tenaga dan merobek dada Toni dan membuatnya menganga tanpa suara kemudian ambruk. Jeff muncul dari balik semak. Danny yang melihat anaknya berdiri dengan posisi seperti habis melempar sesuatu menyadari apa yang baru saja terjadi. “BUNUH MEREKA SEMUA!” Pekik Toni dengan suara melengking. Saat itu juga, seluruh penjaga bergerak dari segala arah. Sora bangkit untuk kembali ke pertempuran sementara Dirga berusaha melindungi gurunya menghalau para penjaga. “Pedangnyaa!! Rebut Oni Mesatsu!!” Perintah Toni dengan geram. 5 penjaga menghadang Danny yang berusaha meraih Jeff. Jarak mereka hanya kurang dari 15 meter namun kepungan penjaga membuatnya mustahil menyongsong Jeff dan mengamankannya.

“Dirga, ke arah Jeff!” Sora memberi komando kepada muridnya. Keduanya saling berpunggungan dan telah berhasil menghalau 4 dari 12 total penjaga yang tersisa. Dirga dengan cepat melumpuhkan lebih banyak penjaga dan memperpendek jarak dengan Jeff di dekat tembok. Sementara itu Danny masih harus berurusan dengan 3 orang lainnya dan ia masih sangat jauh dari Jeff.”Jeff! Berlindung! Ke mari!”Sora kepayahan menghalau beberapa penjaga sekaligus, ia bertarung dengan fokus terbagi antara melumpuhkan lawan, memastikan Jeff tak diincar dan menahan nyeri rusuknya yang patah. Sementara itu Jeff gugup. Ia mematung di sana sedari tadi, kakinya kaku tapi gemetar. Ia tak mampu berdiri tegak namun tak mampu bergerak.

Tanpa diduga, seorang penjaga yang terlepas dari pengawasan Sora melesat ke arah Jeff dengan pedang terhunus. Sora yang sibuk menghalau salah seorang lainnya tak mampu menghadang. Di belakangnya, Dirga dengan cepat melumpuhkan lawan terakhirnya dengan menangkis dan melakukan serangan balasan, mengiris urat di leher musuhnya, membiarkannya menggelepar di tanah. Dirga melesat mengejar Jeff yang hanya terpaut 3 meter darinya. Penjaga itu mendorong pedangnya sekuat tenaga hendak menusuk Jeff yang gemetar tak bergeming dari posisinya.Tiba-tiba sesosok teman berdiri di depannya, bilah pedang mencuat hingga punggung. Penjaga itu berusaha mencabut pedangnya namun Dirga menggenggam sekuat tenaga bilah pedang itu dengan tangan kirinya. Darah merembes ke sekujur perut, punggung, serta telapak tangannya. ”Strength, Jeff!” Ucapnya lirih tanpa menoleh ke belakang. Dengan sisa-sisa tenaga dan kesadaran yang kian menipis, Dirga menggorok leher musuhnya. Sedetik kemudian, keduanya ambruk. Air mata Jeff tumpah tak terkendali. Ia berteriak namun tak mampu mendengar suaranya sendiri. Samar-samar ia melihat ayahnya melumpuhkan penjaga terakhir. Lalu semuanya gelap.

Jeff terbangun di rumah sakit. Ibu duduk di sampingnya. Memeluknya erat sesaat setelah ia mengerang kesakitan.Jeff merasakan ibu menangis dan berbicara macam-macam. Tapi ia tak mendengarkan dengan jelas. “Mana ayah?” Tanya Jeff. Ibu member isyarat dengan mengangkat kepalanya dengan lemah. “Jeff…” Ayah belum selesai bicara, “sensei? Kak Dirga?” Tanya Jeff. “Sensei dirawat di ruangan lain. Kamu tidak apa-apa nak?” Jeff tidak menggubris pertanyaan ayah. “Kak Dirga?” Ulangnya.“Dia tidak selamat, nak.” Ujar ibu lirih. Mata Jeff panas. Air mata kembali membanjir. Jeff menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

6.

Toni didakwa dengan tuduhan penyelundupan senjata illegal, berkomplot dengan sindikat pembunuh bayaran, serta penculikan dan percobaan pembunuhan. Ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Seluruh koleksi senjatanya disita setelah terbukti semuanya merupakan selundupan dari pasar gelap atau hasil curian. Sementara itu Jeff kembali berguru dengan Sora. Berlatih dengan kayu dan bambu setiap hari. Yang membedakan adalah kini tak ada lagi kakak senior yang menemaninya di kala Sora sibuk dengan pekerjaannya.

**

Pedang itu memiliki bilah yang mirip dengan Oni Mesatsu hanya saja lebih pendek. Dibuat dengan metal berjenis sama, warna gelapnya memantulkan cahaya dengan sempurna bagai kegelapan yang menolak sedikit saja cahaya masuk ke dalamnya. “Kau namai apa pedangmu, Jeff?” Jeff memandangi pedangnya lekat-lekat. “Dirge[34].”

FIN

 

[1]Ahli bela diri pedang (swordsman).

[2]Ilmu bela diri pedang modern. Turunan dari kenjutsu.

[3]Tempat latihan ilmu bela diri.

[4]Sabuk pinggang pelengkap pakaian tradisional Jepang. Biasa dikenakan dengan kimono, hakama, dan sebagainya.

[5]Celana panjang longgar khas Jepang.

[6]Guru (Bahasa Jepang).

[7]Terima kasih banyak (Bahasa Jepang).

[8]Posisi duduk yang sopan dalam budaya Jepang. (harafiah: duduk yang tepat).

[9]Pedang kayu.

[10]Teknik tebasan ke delapan arah dalam ilmu bela diri pedang.

[11]Pedang Jepang berukuran antara 100 hingga 130cm.

[12]Kaisar Jepang yang memimpin selama tahun 1600-1616.

[13]Kakek (Bahasa Sunda).

[14]Boneka kayu yang dipakai dalam latihan bela diri.

[15]Cepat sekali (Bahasa Sunda).

[16]Istilah kuda-kuda tengah dalam bela diri Jepang.

[17]Vokalisasi. Biasa diteriakkan ketika melakukan serangan sebagai simbol aliran energi tubuh.

[18]Energi hidup (Bahasa Jepang).

[19]Energi hidup (Bahasa Mandarin).

[20]Harmonisasi energi, gerakan tubuh, dan pedang.

[21]Jurus andalan dalam anime Dragon Ball.

[22]Tongkat Bambu yang digunakan dalam bela diri Kendo.

[23]Hitungan satu, dua, tiga dalam bahasa Jepang.

[24]Pergerakan kaki dalam bela diri.

[25]Gerakan menusuk menggunakan pedang.

[26]Gerakan menebas  menggunakan pedang.

[27]Murid junior.

[28]Partner latihan. Biasanya lebih senior.

[29]Maaf/Permisi (Bahasa Sunda).

[30]Jenis pedang khas Jepang yang lebih pendek dari katana.

[31]Jenis pedang khas Jepang. Sangat pendek dan menyerupai pisau. Ukurannya sekitar 30cm.

[32]Baju pelindung anti peluru.

[33]Demon Killer/Pembasmi Iblis (Bahasa Jepang).

[34]Funeral chant/ Lagu yang dinyanyikan dalam suasana duka.

Image credit: http://livewallpaper.info/katana-wallpaper-hd/

Advertisements

Author:

I contemplate and think more than I should do. I am a human with questions.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s